Kemarin
aku bermimpi tentang ibuku. Pada saat itu, suasa seperti hendak hari raya.
Semua anggota keluargaku berkumpul, ayahku, adik-adikku, paman, bibi dan
sepupu-sepupuku, kami berkumpul di rumah nenek. Semua terasa sangat begitu
lengkap, akan tetapi aku merasa ada yang kurang. Suasana di rumah nenek tidak
ceria seperti biasanya. Tadinya aku menganggap tidak ada yang terjadi, mungkin
saja ini hanya pikiranku. Namun setelah
hampir 3 hari berada disini, aku tidak pernah sekalipun melihat ibuku.
Pada
suatu ketika, ketika kami semua berkumpul di ruang tengah. Tiba-tiba aku
merasakan ada hal buruk yang akan menimpaku saat ini. Benar saja, bibiku
menghampiriku, firasatku buruk. Aku sepertinya sudah mengetahui apa yang akan
terjadi. “nggak, ngggakk… bi, jangan bilang kalau sekarang aku akan mendengar
kabar buruk.” Teriakku berulang kali. Saat itu mataku berkaca-kaca hampir
menangis, aku tak sanggup. Aku sepertinya telah mengetahui apa yang terjadi
sebenarnya, tetapi aku pura-pura tidak tahu apa-apa. Tak lama kemudian, salah
seorang bibi aku yang tinggal bersamaku di Lombok, menghampiriku. Dipegangnya
tanganku dan ia mulai mengatakan hal yang paling aku takuti seumur hidupku
“Kamu, harus kuat, harus sabar, mamahmu sudah meninggal sebulan yang lalu.”
Ucapnya dengan lirih.
Aku tak kuasa
menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menghantamku. Dadaku terasa begitu
sesak, air mata deras mengalir membasahi pipiku. Aku sudah menduga hal ini akan
terjadi, sepertinya aku tahu ibu aku telah meninggal. Tapi aku baru mendengar kabarnya sebulan
kemudian. Aku merasa begitu sedih dan tidak mengerti mengapa semua orang
merahasiakan kepergian ibu dari aku. Aku merasa begitu marah dan kecewa kepada
semuanya. Hingga aku tak dapat menerima kenyataan.
Dadaku masih
sesak memikirkan kepergian ibuku. Bayangkan, bahkan di saat terakhirnya saja
aku tidak melihat wajahnya. Saat aku datang dari Lombok saja aku belum pernah
melihat wajahnya. Aku pun bahkan tidak tahu apa pesannya dan keinginannya
padaku sebelum ia meninggal. Jangankan semua itu, menyentuhnya saja aku belum
pernah sejak menginjakkan kakiku disini dan sekarang aku di kabari sebulan
setelah hari kematian ibuku. Aku merasa begitu sedih…
Hari ini, aku
masih merasa kecewa kepada semuanya, aku berdiam diri di kamar. Air mata masih
deras mengalir seperti hari kemarin, aku memang cengeng. Tapi bagiku kejadian
ini bukanlah suatu hal yang dikatakan cengeng. Aku sangat menyanyangi ibuku.
Hanya karena mendengar kata “ibu” dan mengingat sosok ibuku, aku pastikan aku
bisa menangis kapan saja dan dimana saja. Pikiranku menerawang jauh,
membayangkan betapa sedihnya adik perempuanku yang paling kecil. Mungkin selama
sebulan yang lalu, ia menjalani hari-harinya dengan sangat sedih dan terpukul.
Tak ada tempatnya berbagi kecuali dengan ayahku dan adik laki-laki ku. Betapa
sedihnya, hingga aku tak mampu membayangkannya lagi. Lalu aku mengusap air
mataku. Hatiku begitu hancur dan sakit. Oh ibu.. Aku harap ini hanyalah mimpi.