Senin, 20 Mei 2013

Sebulan yang Lalu



                Kemarin aku bermimpi tentang ibuku. Pada saat itu, suasa seperti hendak hari raya. Semua anggota keluargaku berkumpul, ayahku, adik-adikku, paman, bibi dan sepupu-sepupuku, kami berkumpul di rumah nenek. Semua terasa sangat begitu lengkap, akan tetapi aku merasa ada yang kurang. Suasana di rumah nenek tidak ceria seperti biasanya. Tadinya aku menganggap tidak ada yang terjadi, mungkin saja ini hanya pikiranku. Namun  setelah hampir 3 hari berada disini, aku tidak pernah sekalipun melihat ibuku.
                Pada suatu ketika, ketika kami semua berkumpul di ruang tengah. Tiba-tiba aku merasakan ada hal buruk yang akan menimpaku saat ini. Benar saja, bibiku menghampiriku, firasatku buruk. Aku sepertinya sudah mengetahui apa yang akan terjadi. “nggak, ngggakk… bi, jangan bilang kalau sekarang aku akan mendengar kabar buruk.” Teriakku berulang kali. Saat itu mataku berkaca-kaca hampir menangis, aku tak sanggup. Aku sepertinya telah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, tetapi aku pura-pura tidak tahu apa-apa. Tak lama kemudian, salah seorang bibi aku yang tinggal bersamaku di Lombok, menghampiriku. Dipegangnya tanganku dan ia mulai mengatakan hal yang paling aku takuti seumur hidupku “Kamu, harus kuat, harus sabar, mamahmu sudah meninggal sebulan yang lalu.” Ucapnya dengan lirih.
Aku tak kuasa menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menghantamku. Dadaku terasa begitu sesak, air mata deras mengalir membasahi pipiku. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi, sepertinya aku tahu ibu aku telah meninggal.  Tapi aku baru mendengar kabarnya sebulan kemudian. Aku merasa begitu sedih dan tidak mengerti mengapa semua orang merahasiakan kepergian ibu dari aku. Aku merasa begitu marah dan kecewa kepada semuanya. Hingga aku tak dapat menerima kenyataan.
Dadaku masih sesak memikirkan kepergian ibuku. Bayangkan, bahkan di saat terakhirnya saja aku tidak melihat wajahnya. Saat aku datang dari Lombok saja aku belum pernah melihat wajahnya. Aku pun bahkan tidak tahu apa pesannya dan keinginannya padaku sebelum ia meninggal. Jangankan semua itu, menyentuhnya saja aku belum pernah sejak menginjakkan kakiku disini dan sekarang aku di kabari sebulan setelah hari kematian ibuku. Aku merasa begitu sedih…
Hari ini, aku masih merasa kecewa kepada semuanya, aku berdiam diri di kamar. Air mata masih deras mengalir seperti hari kemarin, aku memang cengeng. Tapi bagiku kejadian ini bukanlah suatu hal yang dikatakan cengeng. Aku sangat menyanyangi ibuku. Hanya karena mendengar kata “ibu” dan mengingat sosok ibuku, aku pastikan aku bisa menangis kapan saja dan dimana saja. Pikiranku menerawang jauh, membayangkan betapa sedihnya adik perempuanku yang paling kecil. Mungkin selama sebulan yang lalu, ia menjalani hari-harinya dengan sangat sedih dan terpukul. Tak ada tempatnya berbagi kecuali dengan ayahku dan adik laki-laki ku. Betapa sedihnya, hingga aku tak mampu membayangkannya lagi. Lalu aku mengusap air mataku. Hatiku begitu hancur dan sakit. Oh ibu.. Aku harap ini hanyalah mimpi.